Cerita Dari Jalanan
Sabtu, 07 Februari 2015
Selasa, 02 Desember 2014
Jumat, 16 September 2011
Menengok Mereka yang Memilih jadi Bidan Desa
* Dibayar Hasil Bumi, Basuh Lelah dengan Semangat
Pekerjaan yang satu ini didominasi perempuan, Bidan Desa. Kiprah mereka, kadang terlupa, karena aktivitas mereka di pelosok sana. Radar Bekasi coba datangi mereka di tempat mereka mengabdi.
FIRMANTO HANGGORO
PENGABDIAN : Para Bidan Desa Sukatenang Sukawangi mengabdikan diri penuh semangat. Firmanto Hanggoro/Radar Bekasi
Sukatenang - Mentari baru saja bersinar. Bidan Puji Hartini (54) sudah siap di ruang kerjanya yang dipenuhi peralatan medis. Puji adalah salah satu bidan desa di Puskesmas Desa Sukatenang. Sudah 20 tahun dia mengabdi dengan ikhlas menjaga dan mengantisipasi kehamilan ibu dan kelahiran anak di wilayah kerjanya.
“Penanganan proses persalinan dan perawatan pasca melahirkan serta perawatan bayi dengan cara medis lebih aman dibandingkan melalui jasa Paraji (dukun beranak),” kata dia membuka obrolan.
Di balik itu, Puji punya kisah menarik selama menjalani pekerjaannya. Jarak tempuh dan kondisi infrastruktur yang buruk menjadi bagian dari perjuangannya memberi layanan pada ibu hamil dan melahirkan yang tak kenal waktu.
Yang menarik justeru bagaimana warga mengucapkan terima kasih pada Puji. “Seringkali saya disuguhi buah-buahan dan apapun hasil bumi dari perkarangan rumah para pasien sebagai bentuk terima kasih,” ungpa Puji. Bahkan dia pernah ‘diupah’ Gabus Pucung lengkap dengan lalapan dan sambelnya sebagai ucapan terima kasih warga.
Sebagai bidan desa, Puji bukan cuma melayani tindakan medis. Tapi dia merupakan ujung tombak pemerintah dalam mengantisipasi resiko kematian ibu dan anak yang tinggi akibat tak ditangani medis.
”Masih banyak tenaga bidan desa di sini. Seperti di Sukabudi, hanya ada satu. Saya seorang, dan itu pun masih menyandang status Pegawai Tidak Tetap (PTT),” kata Anisa (25), Bidan Desa lain yang mengaku baru tujuh bulan mengabdikan dirinya diwilayah Kecamatan Sukawangi.
Puji dan Annisa mewakili bidan desa lainnya di Kabupaten Bekasi yang berjuang melaksanakan tugasnya mengantisipasi kematian ibu dan anak yang tinggi.
“Dengan semangat bekerja semaksimal mungkin, dan melupakan pamrih atas pekerjaan yang dilakukan cukuplah membuat hati senang,” kata bidan lainnya, Sukmawati (40) yang telah mengabdi sejak 1997 silam bangga. (*)
Ketika Infrastruktur Jembatan Moderen Hadir di Dusun Kecil Batu Jaya
* Penyedia Jasa Perahu Eretan Khawatirkan Omsetnya Menurun
Terciptanya infrastruktur jembatan diwilayah pedalaman Kabupaten Bekasi seperti jembatan Batujaya di Desa Setialaksana, Cabangbungin yang berbatasan dengan Kabupaten Karawang sangatlah vital bagi akses transportasi kedua masyarakat disana. Selama ini moda transportasi penghubung wilayah tersebut hanya ditopang oleh keberadaan perahu eretan yang beroperasi melintasi Sungai Citarum sebagai jalur utama ekonomi dan sosial. Namun, pembangunan jembatan tersebut menuai kekhawatiran penyedia jasa perahu karena diyakini omsetnya akan menurun drastis sehingga akan mempengaruhi pendapatan dan kestabilan ekonomi keluarga mereka.
Keberadaan jembatan Batu Jaya di Kecamatan Cabangbungin yang berbatasan dengan Kabupaten Karawang merupakan bentuk nyata usaha Pemkab Bekasi memajukan infrastruktur disana. Apalagi jembatan lainnya di daerah Desa Bojong sebagai akses penghubung dua wilayah tersebut sangatlah jauh ditempuh yang menurut warga cukup memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Oleh karena itu, wajarlah kiranya eretan menjadi jasa transportasi penyebrangan yang sangat popular di daerah di sepanjang aliran sungai tersebut.
“Sangat membantu dan memang hanya dengan eretan ini kita bisa menyebangi, tidak sampai lima menit sampailah kita melintasi Citarum”, ujar Misan bin Nasri (27) warga Desa Setialaksana yang sehari-hari menggunakan jasa perahu eretan.
Pembangunan jembatan Batujaya yang akan mulai beroperasi tahun ini menuai kekhawatiran Masinan (32), penarik perahu eretan yang sejak 10 tahun setia menyebrangi warga melintasi Citarum.
“Yah, was-was juga mengingat dioperasikannya jembatan tersebut otomatis akan berpengaruh terhadap omset pendapatan usaha ini,” keluhnya sambil sesekali mengatur penumpang yang akan menyeberang.
Masinan melanjutkan, dari jumlah penghasilan yang ia dapatkan setiap hari dari jasa penyebrangan tersebut mampu mengantongi Rp300 ribu per sembilan jam operasional.
“Kalau jembatan itu rampung pastinya angka itu tidak pernah lagi tercapai,” katanya tersenyum kecut.
Jika dihitung dengan tarif yang dikenakan untuk sekali penyebrangan, yakni Rp 2.000 maka setidaknya ada 150 orang yang menyebrang dengan menggunakan jasa eretannya. Tarif berbeda akan dikenakan apabila menggunakan kendaraan. Untuk mobil tarif yang dikenakan cukup bervariasi anatara Rp5 ribu hingga Rp15 ribu.
“Kalau akhir pekan biasanya akan lebih banyak lagi, bisa mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu. Bahkan pernah, disaat lebaran sehari itu bisa mengantongi hingga Rp 2 juta,” ujar lelaki beranak tiga ini yang memulai usahanya sejak pukul 06.00-15.00 WIB.
Jasa penyebrangan tersebut terbagi ke dalam dua shift yang beroperasi selama 24 jam. Selain itu, tidak ada batasan minimal jumlah penumpang untuk bias menyebrang. “Kapan saja bias, dan tidak perlu menunggu banyak. Walau hanya ada satu orang yang tetap akan disebrangkan,” katanya.
Salah seorang pengguna jasa eretan lainnya, Maman (29), mengatakan eretan sangat dibutuhkan sebagai akses penyebrangan. Terlebih lagi, jembatan Batujaya yang diharapka tak kunjung rampung . “Selama ini pakai eretan. Kan tidak mungkin, harus jauh-jauh ke Bojong untuk bisa nyebrang ke Karawang,” ujarnya..
Melihat kondisi tersebut tentunya ada dua sisi yang berseberangan terkait kehadiran Jembatan Batujaya. Kemudahan akses bagi warga di kedua daerah yang diharapkan akan meningkatkan perekonomian, sedangkan disisi lain berdampak pada bergugurannya usaha eretan di sejumlah lokasi.
Keberadaan jembatan Batujaya, adalah salah satu dari dampak pembangunan yang ada. Mau tidak mau dengan perkembangan semua daerah, kemudahan akses transportasi menjadi suatu hal yang mutlak diberikan untuk pengembangan daerah itu sendiri. Pertanyaannya, kapankah dorongan kebutuhan ini akan dijawab dengan segera oleh para pengambil kebijakan?
***
Langganan:
Komentar (Atom)