* Dibayar Hasil Bumi, Basuh Lelah dengan Semangat
Pekerjaan yang satu ini didominasi perempuan, Bidan Desa. Kiprah mereka, kadang terlupa, karena aktivitas mereka di pelosok sana. Radar Bekasi coba datangi mereka di tempat mereka mengabdi.
FIRMANTO HANGGORO
PENGABDIAN : Para Bidan Desa Sukatenang Sukawangi mengabdikan diri penuh semangat. Firmanto Hanggoro/Radar Bekasi
Sukatenang - Mentari baru saja bersinar. Bidan Puji Hartini (54) sudah siap di ruang kerjanya yang dipenuhi peralatan medis. Puji adalah salah satu bidan desa di Puskesmas Desa Sukatenang. Sudah 20 tahun dia mengabdi dengan ikhlas menjaga dan mengantisipasi kehamilan ibu dan kelahiran anak di wilayah kerjanya.
“Penanganan proses persalinan dan perawatan pasca melahirkan serta perawatan bayi dengan cara medis lebih aman dibandingkan melalui jasa Paraji (dukun beranak),” kata dia membuka obrolan.
Di balik itu, Puji punya kisah menarik selama menjalani pekerjaannya. Jarak tempuh dan kondisi infrastruktur yang buruk menjadi bagian dari perjuangannya memberi layanan pada ibu hamil dan melahirkan yang tak kenal waktu.
Yang menarik justeru bagaimana warga mengucapkan terima kasih pada Puji. “Seringkali saya disuguhi buah-buahan dan apapun hasil bumi dari perkarangan rumah para pasien sebagai bentuk terima kasih,” ungpa Puji. Bahkan dia pernah ‘diupah’ Gabus Pucung lengkap dengan lalapan dan sambelnya sebagai ucapan terima kasih warga.
Sebagai bidan desa, Puji bukan cuma melayani tindakan medis. Tapi dia merupakan ujung tombak pemerintah dalam mengantisipasi resiko kematian ibu dan anak yang tinggi akibat tak ditangani medis.
”Masih banyak tenaga bidan desa di sini. Seperti di Sukabudi, hanya ada satu. Saya seorang, dan itu pun masih menyandang status Pegawai Tidak Tetap (PTT),” kata Anisa (25), Bidan Desa lain yang mengaku baru tujuh bulan mengabdikan dirinya diwilayah Kecamatan Sukawangi.
Puji dan Annisa mewakili bidan desa lainnya di Kabupaten Bekasi yang berjuang melaksanakan tugasnya mengantisipasi kematian ibu dan anak yang tinggi.
“Dengan semangat bekerja semaksimal mungkin, dan melupakan pamrih atas pekerjaan yang dilakukan cukuplah membuat hati senang,” kata bidan lainnya, Sukmawati (40) yang telah mengabdi sejak 1997 silam bangga. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar